BIDIK

Kritis, Informatif & Partisipatif

ESAI

Kiai Asep : Jadilah Guru Yang Baik!

ROMY RIAZA (Mahasiswa KPI 2017)

“hanya ada satu kata, lawan!” Untaian syair tersebut abadi dan mashur hingga detik ini. Teruskan kata “lawan” selalu terdengar pada teriakan demonstran. Ungkapan yang tidak asing ini merupakan syair dari aktivis Wiji Thukul. Setiap aktivis memiliki caranya sendiri dalam menyampaikan aspirasi dan pengawalan sebuah kebijakan. Demonstrasi yang kerap menjadi ciri dari aktivis sesungguhnya adalah jalan akhir dalam melawan ketidakadilan di negara ini. Bagi aktivis para aktivis yang mesin memikirkan intelektual dan tercapainya kemakmuran dan keadilan ibu Pertiwi.


Membicarakan topik aktivis tak pernah lepas dari melihat tokoh tokoh yang bertebaram meneriakkan keadilan. Adil dan makmur adalah ungkapan yang terus beliau dengungkan kepada para santrinya, tentu saja tokoh yang akan diangkat adalah Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim, MA. Beliau adalah aktivis pendidikan yang terus memiliki harapan untuk keadilan dan kesejahteraan Indonesia. Kiai Asep ini memiliki cara yang unik untuk mengawal sebuah kebijakan.


Kiai asep yang dikenal dengan kiai dermawan ini telah mampu membangun peradaban di tanah kaki gunung penanggungan, Pacet Mojokerto. Dengan mendirikan sekolah madrasah Tsanawiyah hingga perguruan tinggi, kemudian di Wonocolo, Surabaya beliau juga mendirikan instansi pendidikan serupa. Tak hanya itu sebelum ia mampu membangun instansi pendidikannya sendiri, ia hingga hari ini masih menjabat sebagai Rektor IAI Al Ghozini di Sidoarjo.

Warisan aktivis sosok ayahandanya KH. Abdul Chalim asal Majalengka, kiai asep tidak berhenti untuk memperjuangkan pendidikan, lewat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (pergunu) kiai Asep menyampaikan aspirasi, untuk kesejahteraan guru dan dosen.

Usianya kini memang tak lagi muda, tapi kobaran api semangatnya melebihi pemuda 40 tahun. Namun sejak mudanya beliau telah aktif melanggengkan pendidikan yang bermutu. Awal kariernya beliau adalah seorang guru SMP swasta di Surabaya, namun ia masih aktif dengan kegiatan organisasi Nahdlatul Ulama (NU), hingga menjadikannya ketua Cabang Nahdlatul Ulama Surabaya.

Pergunu organisasi besar, yang merupakan badan otonom dari NU sempat lama mati suri kembali di aktifkan oleh H. Abdul Latif Mansyur, dengan beberapa tokoh salah satunya kiai Asep, pada Maret 2002, pertemuan ini membuahkan AD/ART dan kepengurusan wilayah Jawa timur, dilanjutkan dengan kepengurusan cabang-cabang yang di bentuk, kemudian diteruskan menuju Pengurus Besar Nahdlatul Ulama untuk dibawa kepada Banom NU, pada muktamar NU ke-31.

Yang sebelum pada pertemuan itu telah terbentuk pengurus pusat pergunu dengan pemilihan kiai Asep menjadi ketua pergununya. Usaha kiai Asep dan reka-rekan untuk membawa kesejahteraan guru NU, dan menjadikannya organisasi Banom NU tidaklah mudah, barulah muktamar tahun 2010 Pergunu di akui sebagai Banom NU.

Pergunu kini aktif memberikan masukan kepada kementrian pendidikan, pergunu juga aktif memberikan beasiswa pada mahasiswa sarjana atau Pascasarjana dengan visi membawa ideologi Aswaja pada kadernya untuk meneruskan pendidikan dan pengajaran yang dilakukan dengan target keberhasilan siswa, maka itu pendidik adalah pahlawan, dan aktivis pengawal kebodohan.

“jadilah guru yang baik, atau tidak sama sekali” begitulah kiranya hal yang beliau teriakkan dimana-mana, dengan ketulusannya mengajar dan mendidik siswa dan santrinya.