BIDIK

Kritis, Informatif & Partisipatif

NEWS

Semarak Hari Raya Idul Adha, Perdana digelar Mahasantri IKHAC

MOJOKERTO, BIDIK – Mahasantri Institut Pesantren KH. Abdul Chalim (IKHAC) Mojokerto gelar Semarak Hari Raya Idul Adha (SAIDA) perdana. Mengusung tema “Merdunya Gema Takbir yang Penuh Kebaikan di Malam Idul Adha 10 Dzulhijjah 1442 H”, kegiatan ini dilaksanakan di masjid IKHAC pada Senin, (19/7/2021).

Turut hadir H. Muhammad Ilyas, Lc.MA (Kepala Sekolah SMA Amanatul Ummah), H. Muhammad Albarra, Lc, M. Hum, (Wakil Bupati Mojokerto), Ustad H. Witoyo Syaifuddin, S.Pd, Ustad Ashari, S.Pd, Ustadz Jupri Abusin, S. Ikom, Ustadz Hapsi Alawi, S,pd., Ustadz Apriyadi, S.Pd.I (jajaran pembimbing SAIDA) dan dihadiri Mahasantri IKHAC dengan jumlah total keseluruhan 463 orang.

Acara ini digagas oleh Tamir Masjid IKHAC, dengan tujuan; ‘menggemakan takbir dalam bingkai silaturrahmi organisasi wilayah IKHAC-Mojokerto dengan kulturitas dari sabang sampai merauke juga ada dari kancah negara yang menjadi Mahasantri IKHAC’. Hal ini disampaikan langsung oleh Ketua Pelaksana SAIDA, Muhammad Maulana Munaharyanto.

“Kami panitia berinovasi mengkonsep malam Idul Adha yang di kemas dalam pentas seni wilayah dengan tidak menghilangkan unsur gema takbir dan sebagai Mahasantri rantau. Salah satu inisiatif untuk meninggalkan kesan Indah dan bermakna salah satunya ialah; dengan kebersamaan untuk mencapai kemaslahatan bersama. Semangat berproses bareng untuk kemaslahatan dengan konsep perbarui niat, kuatkan tekad, gelorakan semangat, Insyaallah khidmat”, papar Maulana saat diwawancarai.

Selaku perwakilan dari panitia, Maulana menghimbau kepada para Mahasantri untuk tetap jaga prokes di era PPKM ini dan diakhiri dengan pesan; perbaharui niat serta semangat berkhidmat.

“Pesan dari panitia SAIDA untuk tetap jaga protokol kesehatan karena, kita dalam ranah PPKM dan mohon maaf jikalau acara ini kami dari panitia SAIDA kurang dalam memfasilitasi baik itu dari tempat atau yang lainnya. Pesan untuk kita semua; selalu perbarui niat, kuatkan tekad, gelorakan semangat, insyaallah khidmat,” tandasnya.

Disamping itu, Muhammad Ilyas, Lc.MA (Gus Ilyas) sampaikan wejangan kepada Mahasantri untuk hidupkan malam hari Raya Idul Adha dengan bgeitu Allah SWT akan senantiasa menghidupkan hati kita.

“Ucapan rasa terimakasih dan rasa syukur kita sampaikan kepada tauladan kita, Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim, MA, yang telah membimbing dan membina kita yang tak kenal rasa lelah. Saya sampaikan kepada seluruh Mahasantri yang memeriahkan malam ini. Ada literasi yang belum pernah kita ketahui di balik Idul adha, pokok dalam intinya hidupkanlah malam hari Raya Idul Adha. Semoga kita menjadi bagian orang-orang yang tidak mati hatinya dan semoga kita diberkahi gusti Allah SWT, dikasih kesehatan, umur panjang khususnya kepada Romo yai, karena kita semua masih butuh bimbingan beliau termasuk saya”, jelas Gus Ilyas.

Senada dengan itu, Ketua Asrama Putri Adesisilia Mokodompit tanggapi acara SAIDA ini. Menurutnya kegiatan ini sangat berbeda, karna ada pentas seni antar daerah IKHAC yang menarik dengan memperkenalkan ciri khas daerah dengan konsep islami.

“Saya sangat senang sekali. Acara ini tentu dinanti-nantikan oleh mahasantri perantau dari Sabang sampai Merauke. Takbiran bersama, mendengar Tausiah dari Gus iIyas dan semakin meriah dengan adanya pukul bedug (simbolis pembukaan partisipasi tiap Organisasi Daerah (ORDA) oleh Gus Barra yang merupakan Wakil Bupati Mojokerto)”, ujarnya.

Ade melanjutkan, menurutnya acara ini menarik karena terdapat beragam ORDA bahkan Mahasantri luar negeri. Ade berpesan untuk tetap mempererat ukhuwah islamiah dan menjaga tali persaudaraan walaupun berbeda daerah ataupun negara.

“Acara SAIDA ini sangat menarik karena diisi 8 ORDA dari mulai Mahasantri Daerah; Timur, Sumatera, Kalimantan, Bali, Jawa Barat, Jogja-Jateng serta Mahasantri luar negeri; Thailand, Afghanistan dan Philipina. Ini menciptakan budaya multikultural hingga tingkat Internasional. Pesan saya, tetaplah mempererat ukhwah Islamiah dan menjaga tali persaudaraan walaupun berbeda negara, daerah, suku, bahasa di tanah rantau. Tetaplah saling menopang walaupun kita berasal dari daerah yg berbeda. Mari untuk selalu ciptakan keharmonisan sebagai keluarga Institut Pesantern KH Abdul Chalim,” pungkasnya.

Dalam pelaksanaannya, acara ini berlangsung dari pukul 19.30 WIB dan dibuka dengan iringan hadroh dari Bijahil Musthofa. Kemudian acara formal; pembacaan ayat suci Alquran, sambutan, gema takbir serta simbolis (oleh Gus Barra), diakhiri dengan pembacaan doa dan acara non formal (fastival seni). (tia/ila)