BIDIK

Kritis, Informatif & Partisipatif

ESAI

ADAKAH PERAN SANTRI DALAM KONTRIBUSI MENGEMBANGKAN FIKIH SEBAGAI ETIKA SOSIAL?

Oleh:
Muhammad Rohman Hidayat
Mahasiswa KPI 2020

           Seorang santri terutama yang sedang berada di pondok pesantren, sudah sudah sewajarnya berfikir ‘mengamalkan ilmu fikih’ dalam berbagai aktivitas sehari-hari mulai dari mengawali hari, hingga menjelang tidur. Namun, tidak semua santri menerapkan ilmu fikih tersebut dalam kehidupan sosial di masyarakat. Dalam studi masalah ini, ialah; bukan menerapkan fikih sebagai formalisasi hukum fikih terhadap kehidupan sosial, melainkan menciptakan sebuah moralitas kemanusiaan di dalam sebuah masyarakat.

            Maka tidak heran jika antara santri dan masyarakat (yang bukan santri) secara tidak langsung menjadi sebuah kelompok yang berbeda. Kelompok santri cenderung dianggap oleh masyarakat sebagai kelompok yang paham tentang ilmu agama. Sedangkan kelompok masyarakat; dianggap sebaliknya. Sehingga menciptakan sebuah sekat sosial di antara keduanya, dan tidak jarang menimbulkan sikap saling skeptis dan berseberangan.

            Dari latar belakang dan juga rumusan masalah di atas, sudah seharusnya seorang santri menjadikan fikih sebagai etika sosial di masyarakat. Imam Abu Hanifah (w. 150 H), sebagai pendiri awal mazhab fikih, mendefinisikan fikih sebagai “Ma’rifah al-Nafs Ma Laha wa Ma ‘Alaiha”. Pengetahuan diri tentang apa yang baik dan apa yang buruk, atau tentang hal yang memberikan manfaat bagi manusia dan apa yang merugikannya. Sesudah abad ke IV H, kemudian dikenal sebagai “Ashr al-Inhithah” yang berarti periode terpuruk. Pengertian fikih semakin menyempit,  hanya dijadikan sebagai; produk pikiran manusia (term; ahli hukum) atau yang sering kita kenal sebagai mujtahid) yang isinya tentang hukum halal dan haram saja, lalu hal ini lah yang menjadi dipahami secara umum oleh beberapa masyarakat muslim bahkan santri.

            Secara garis besar etika berhubungan dengan perilaku seseorang; dalam etika adalah baik, buruk, benar, salah, wajib, dan lain-lain. Seperti halnya suatu tindakan dinilai etis jika membawa sebuah manfaat terhadap orang lain. Fondasi fikih sebagai etika sosial adalah dari etika perorangan. Dalam Islam, manusia adalah pusat target ajarannya.[1] Baik itu berhubungan dengan Tuhan (Hamblum Minallah), manusia dengan manusia (Hamblum Minannas),  dan juga hubungan dengan alam (Hablum Minal Alam). Suatu moralitas, etika, dan budi pekerti adalah sebuah manifestasi dari tingkah laku kehidupan seseorang, tidak hanya ucapan atau tulisan saja.[2]

            Berangkat dari beberapa definisi di atas, seharusnya seorang santri lebih bisa untuk berfikir terbuka terhadap ilmu pengetahuan dan terutamanya ilmu fikih yang dikembangkan di Pondok Pesantren untuk dijadikan sebagai etika sosial di masyarakat.

            Tidak dapat dihindari lagi, pada dewasa ini memang seorang santri dituntut untuk membawa perubahan, baik itu perubahan di lingkup lingkungan pondok pesantren ataupun pada lingkup masyarakat luas. Maka dari itu, setidaknya seorang santri harus merubah pola pikirnya terdahulu sebelum membawa perubahan. Mulai dari meluaskan wawasannya, menghilangkan stigma dari kelompok santri kepada kelompok masyarakat; bahwa kelompok masyarakat adalah sebuah kelompok yang kurang memahami tentang ilmu agama, dan juga seharusnya seorang santrilah yang ikut andil dalam mengajarkan ilmu agama secara mendasar kepada masyarakat. Seminimal mungkin adalah masyarakat di sekitar pondok pesantren tersebut merasakan perbedaan antara mereka yang tidak di sekitar pondok pesantren.

Referensi:

¹Asmani M. Jamal, Mengembangkan Fikih Sosial, KH. MA. Sahal Mahfud, Elaborasi Lima Ciri Utama. Jakarta. Kompas Gramedia. 2015. Hlm. 78-79

²A. Qodry Azizy, Pendidikan (Agama) Untuk Membangun Etika Sosial. Hlm. 110.