BIDIK

Kritis, Informatif & Partisipatif

ESAI

MAMPUKAH MAHASISWA TETAP EKSIS DI TENGAH PANDEMI?

Oleh:
Siti Aulia Luthfia Rahmah
Mahasiswi KPI 2020.

Bermula dari virus yang muncul di Wuhan, Cina pada akhir tahun 2019, hingga saat ini, pandemi corona virus disease (covid-19) masih eksis dan sudah menyebar ke penjuru dunia. Covid-19 telah menyentuh bahkan mengubah struktur tatanan multi sektor dalam kehidupan setiap manusia di muka bumi. Mulai dari hal kecil seperti berjabat tangan saat bertemu dengan teman atau kerabat yang kini dibatasi bahkan tidak diperkenankan sebab hadirnya ancaman covid-19 di tengah- tengah kehidupan sosial, hingga hal yang sangat berpengaruh bagi keberlangsungan hidup banyak manusia, salah satunya adalah sektor perekonomian. Dari mulai pedagang kaki lima hingga perusahaan kapitalis sekalipun turut merasakan dampak negatif dari covid-19 ini, banyak investor dari dalam maupun luar negri yang membatalkan kerja sama bisnis, juga pasar-pasar tradisional dan modern yang sepi dari transaksi jual-beli sebab menjamurnya digital marketing dan online shop yang lebih memudahkan siapapun dalam memenuhi kebutuhan harian tanpa harus bertemu langsung dengan pihak lain yang bersangkutan. Bukan hanya kerugian material yang dirasakan, banyak pedagang kecil hingga pegusaha start up yang gulung tikar karena kehabisan barang dan modal usaha. Meski begitu, sektor perekonomian bukanlah satu-satu objek vital yang terkena dampak negatif akibat covid-19, adalah sektor pendidikan, yang juga terancam jalan di tempat bahkan dibayang-bayangi lumpuh total sebab pembatasan interaksi sosial yang melibatkan manusia dengan manusia lain dalam jumlah besar dengan alasan yang masih sama, dalam rangka mencegah penularan virus covid-19. Sistem pembelajaran yang dianggap tidak efektif karena harus mengandalkan dalam jaringan internet untuk pertukaran informasi dan ilmu pengetahuan dianggap mengancam tingkat keberhasilan para pendidik dalam menyampaikan pendidikan.

Pendidikan merupakan kebutuhan pokok sekaligus menjadi hak bagi setiap warga di suatu negara, tidak terkecuali negara kita, Indonesia. Demi memenuhi hak akan pendidikan bagi setiap warganya, pemerintah Indonesia mengeluarkan peraturan perundang-undangan mengenai Wajib Belajar, menetapkan bahwa setiap warga negara Indonesia wajib mengenyam pendidikan dasar minimal 9-12 Tahun dengan dibiayai dan difasilitasi penuh oleh pemerintah. Karena dengan pendidikan, kualitas sumber daya manusia, yang mana hal tersebut merupakan aset terpenting bagi suatu negara, dapat ditingkatkan. Sebab kualitas pendidikan sumber daya manusianyalah, suatu negara dapat dikategorikan menjadi sebuah negara maju. Tidak ada satu negara majupun yang mengesampingkan pendidikan bagi warga negaranya, bahkan menitikberatkan sektor pendidikan demi memajukan bangsa dan negara. Sampai saat ini pun, negara-negara dengan kesadaran tinggi akan pentingnya pendidikan bagi sumber daya manusia mereka terus mengembangkan dan menginovasikan pendidikan dengan tujuan agar bangsa dan negara mereka terus maju dan siap memimpin peradaban dunia. Negara-negara maju tersebut telah membuktikan, bahwa pendidikan memiliki kontribusi dan pengaruh yang sangat besar terhadap kemajuan suatu bangsa dan negara. Begitulah seharusnya Indonesia menerapkan prioritas pendidikan bagi para penerus bangsa, demi terwujudnya Indonesia sebagai negara maju.

Terlepas dari peraturan Wajib Belajar di bangku pendidikan dasar dan peran penting pendidikan pada suatu negara, ada mahasiswa yang harus terus mempertahankan eksistensinya di masa pandemi yang memberhentikan secara paksa banyak aktifitas harian. Mahasiswa, yakni orang yang melanjutkan pendidikan dari pendidikan dasar ke perguruan tinggi, sekaligus menjadi agent of change yang secara tidak langsung mengambil peranan penting dalam mempertahankan sistem dan ideologi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Namun kaitannya di masa pandemi saat ini, yang membatasi setiap ruang dan waktu tanpa terkecuali, mahasiswa juga turut terkena imbasnya. Jiwa-jiwa yang berkobar akan cinta tanah air dan semangat nasionalisme itu, mental-mental baja yang menyeru untuk turun ke jalanan menyuarakan keadilan itu, seakan menyusut dan kerdil diakibatkan batasan-batasan yang diciptakan oleh ancaman virus covid-19. Pemerintah ramai-ramai membuat peraturan baru terkait social

distancing disertai konsekuensinya, perusahaan-perusahaan dipaksa work from home, siswa-siswa dilarang berangkat ke sekolah dan belajar dari rumah, mengkampanyekan tagar #dirumahaja, dengan tujuan untuk meminimalisir penyebaran virus yang kian merajalela. Kesehatan adalah yang utama. Lalu, bagaimana dengan kesehatan mental yang tak kalah penting? Dalam hal ini mahasiswa. Bagaimana dengan eksistensi dan peranan mahasiswa dengan jiwa- jiwa yang haus akan sosialisasi dengan manusia lain? Yang seharusnya terus bergerak meskipun merangkak, dan nafasnya hanya dapat dipenuhi dengan pertukaran-pertukaran informasi dan luapan emosi melalui interaksi dengan orang lain. Akankah mahasiswa kehilangan jati diri bahkan suaranya? Akankah mahasiswa kehilangan kepercayaan bahkan pergerakan? Apakah kobaran api semangat dan jiwa muda mahasiswa padam sebab pembatasan-pembatasan yang intoleran? Apakah hanya kesehatan fisik yang penting hingga melupakan kesehatan mental yang tak kalah penting? Bagaimana mahasiswa seharusnya mengatasi krisis kesehatan mental yang hampir membuat gila karena pemikiran buas yang terkurung dan tak kunjung dibebaskan?

Mahasiswa sangat erat kaitannya dengan interaksi sosial, baik dalam lingkungan kampusnya sendiri maupun lingkungan luar kampus. Hal ini sejalan dengan teori dari tokoh pendidikan yang dikenal sangat gencar menggerakkan perubahan melalui dunia pendidikan, adalah Paulo Freire (1921- 1997) dari Brazil. Dalam teorinya yakni teori pendidikan pembebasan, mengatakan bahwa pembebasan harus dijalankan melalui pendidikan, yaitu pendidikan yang berbasis humanisasi. Pendidikan humanisasi yang dimaksud Freire adalah pendidikan mampu memanusiakan manusia sehingga menjadikan manusia yang berdaya guna dan berhasil guna. Berdasarkan teori ini, mahasiswa harus membangun hubungan yang kritis dengan dunia, mengintervensi realitas dan mengubahnya, bukan hanya menunggu dan beradaptasi. Mahasiswa adalah penyambung lidah masyarakat kepada pemerintah. Berbicara hubungan mahasiswa dengan demokrasi, hal ini mengembalikan memori pada peristiwa di tahun 1998, Gerakan Mahasiswa Indonesia 1998, dimana pada saat itu, mahasiswa menyuarakan keluhan-keluhan masyarakat atas sebuah pemerintahan. Para mahasiswa dari berbagai universitas di seluruh Indonesia bersatu untuk berunjuk rasa, yang menghasilkan turunnya

presiden Soeharto yang telah menjabat sebagai presiden Republik Indonesia selama 32 tahun. Bayangkan saja bagaimana jadinya Indonesia pada saat itu jika para mahasiswanya apatis dan hanya diam saja mengamati keadaan demokrasi yang kacau balau. Mahasiswa dididik agar menjadi individu yang berani menyampaikan pendapat dan pemikirannya. Mahasiswa harus berani tampil di muka umum, membela kepentingan masyarakat dan maju sebagai garda terdepan menuntut tegaknya keadilan. Membela kaum lemah masyarakat yang berteriak tapi tak sampai ke telinga para pemimpin negara. Lalu, apa jadinya jika mahasiswa masa kini acuh pada kondisi negara? Mahasiswa tidak hanya dituntut mumpuni dalam hal intelektualitas, mencetak barisan nilai yang baik hingga menjadi lulusan terbaik, melainkan mampu mengimplementasikan materi dan pengalaman yang telah mereka dapat di kampus pada kehidupan sosial bermasyarakat. Mengabdikan ilmu dengan mengamalkannya. Peduli terhadap dilema masyarakat, tercatat menjadi warga negara yang punya hak suara, tapi tak pernah didengar keluhannya. Belum lagi pandemi memporak-porandakan harapan hidup yang hanya secuil itu.

Egois memang jika mahasiswa hanya memikirkan kehidupan akademis mereka saja, tentang bagaimana susahnya menyerap materi yang disampaikan karena terpisah jauh dari penyampai materi, belum lagi tugas-tugas yang seakan tak henti mengisi jadwal sehari-hari. Masa aktif selama menyandang status sebagai mahasiswa yang seharusnya dipenuhi dengan bertemu orang-orang baru setiap harinya, berdiskusi tentang materi yang telah didapat, atau mengunjungi perpustakaan dan menambah daftar bacaan diselingi debat kecil tentang perbedaan pemikiran hingga aktif dalam kegiatan organisasi luar kampus hingga ke luar kota. Jiwa-jiwa mahasiswa sangat bergantung pada interaksi dan komunikasi dengan orang banyak, seperti Harold D. Laswell mengemukakan fungsi komunikasi sebagai berikut:

  1. Penjajagan/pengawasan lingkungan (surveillance of the environment);
  • Menghubungkan bagian-bagian yang terpisah dari masyarakat untuk menanggapi lingkungannya (correlation of the part of society in responding to the environment);
  • Menurunkan warisan sosial dari generasi ke generasi berikutnya

(transmission of the social heritage).

Dengan banyak berkomunikasi dan berdiskusi, perlahan-lahan sikap apatis dapat diatasi, karena dengan bertukar informasi, ide dan pemikiran akan membuka jalan menuju ruang-ruang kepedulian terhadap sesuatu yang membutuhkan bantuan. Juga dengan banyak-banyak membaca, baik buku, surat kabar, artikel- artikel atau apapun, hal itu akan membuka jendela pikiran menjadi lebih luas dibanding jika mahasiswa tidak memiliki apapun untuk dibaca, sehingga mahasiswa miskin pengetahuan dan wawasan, jiwa kritis akan perlahan luntur dan hilang dari jiwa mahasiswa.

Bagaimana dengan mahasiswa terdampak covid-19 yang saat ini mengalami krisis mental. Banyak faktor yang disebabkan oleh pandemi yang membatasi ruang-ruang gerak mahasiswa sehingga membuat mahasiswa menjadi kurang peka bahkan acuh tak acuh akan problematika di sekitarnya, mahasiwa apatis. Sangat minimnya forum-forum diskusi tatap muka yang seharusnya menjadi suplemen wajib bagi mahasiswa di luar jam perkuliahan, membicarakan masa depan bangsa, bahwa siapa yang akan bertanggung jawab atas bobrok bangkitnya sebuah negara. Belum lagi buku-buku yang sama sekali tidak tersentuh akibat terlalu lama berselancar di dunia maya dengan alasan tuntutan perkuliahan online. Materi-materi bahkan tugas tak terlepas dari sentuhan dunia maya. Dua faktor ini sudah cukup kuat menjadi dasar terbentuknya mental-mental yang lemah dan h ampir membuat mahasiswa kehilangan jati diri mereka sebagai Agent of change dan Social control, alih-alih memberikan perubahan, merekalah yang dipaksa berubah oleh keadaan namun tetap dengan tuntutan awal sebagai mahasiswa. Kaum-kaum intelektual bermental baja, yang bebas menyuarakan aspirasinya di jalanan, dituntut untuk bisa menjadi jembatan atau bahkan kendaraan yang mengantarkan aspirasi rakyat kepada para pemerintah. Karena pemikiran rakyat dan pemerintah yang seringkali tak sejalan, maka disinilah tugas mahasiswa sebagai agen perubahan sangat dibutuhkan. Mahasiswa dituntut mampu menhyampaikan kebenaran tanpa menutupi kebohongan, menegakkan keadilan dan memperjuangkan kesejahteraan rakyat. Mandiri, adaptif, responsif, komunikatif, kritis, dan mampu menjalin relasi dengan berbagai manusia dengan

latar belakang sosial yang berbeda-beda adalah hal yang wajib dikuasai oleh mahasiswa dalam mentotalitaskan perannya sebagai agen perubahan. Jiwa bebas dengan semangat yang berkobar khas anak muda menyatu dengan kekayaan intelektual, mendukung mahasiswa untuk mengobarkan jiwa nasionalisme dan menggerakkan perubahan terhadap masyarakat di sekitarnya. Sudah seharusnya, mahasiswa aktif berperan dan terjun langsung dalam komponen-komponen kehidupan bermasyarakat, menampung dan memberi solusi atas problematika yang dikeluhkan masyarakat, bukan hanya pasif menonton dan mengamati hal-hal yang diprediksi akan terjadi di masa mendatang, tetapi menjadi pemilik tangan- tangan dan otak-otak kreatif inovatif yang mewujudkan harapan dan cita-cita masyarakat akan bangsa dan negara.

Selain itu, mahasiswa juga memegang peranan sebagai control social, dimana mahasiswa memegang peranan mengawasi jalannya pemerintahan, dan mempunyai kesempatan untuk mengkritik pemerintah melalui ruang diskusi terbuka ataupun mimbar umum saat demonstrasi dengan tanpa menyebabkan kerusuhan publik. Atau bisa juga dengan musyawarah terbuka dan melalui tulisan- tuisan yang menggugah kesadaran pemerintah untuk membenahi jalannya pemerintahan. Mahasiswa harus peka terhadap apa saja yang terjadi di sekitarnya, juga responsif dan peduli terhadap efek yang akan ditimbulkannya. Jadi mahasiswa harus bermanfaat dan memberikan perubahan baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain.

Mahasiswa sebagai kaum intelektual pembawa perubahan hendaknya menghapuskan budaya hedonisme yang menjadi stigma masyarakat di dunia perkuliahan dan menggantikannya dengan intelektualitas dan progresifitas yang nyata. Mahasiswa sebagai social control adalah mahasiswa menjadi pengamat jalannya pemerintahan terhadap kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara. Ketika ada suatu peristiwa atau kejadian yang tidak sesuai dengan cita-cita dan nilai luhur bangsa, maka mahasiswa akan memberikan saran, kritikan dan solusi. Bekerja dua kali lebih serius dalam menjalankan peran sebagai mahasiswa di era society 5.0, harus mampu mengimbangi antara interaksi sosial tatap muka maupun virtual melalui media sosial. Jika membicarakan mahasiswa, sudah pasti tidak terlepas dari dosen dan upaya-upayanya dalam membentuk karakter mahasiswa

yang sesungguhnya. Dengan keadaan yang sudah sangat berbeda dari zaman perkuliahan sebelum maraknya dunia digitalisasi, dosen-dosen juga bertanggungjawab atas moral dan mental mahasiswa saat ini. Waktu kuliah lebih sering menatap layar dan kurang berkomunikasi dengan orang lain, sangat mempengaruhi mental dan moral mahasiswa.

Keseringan mengakses media sosial dapat menyebabkan digital fatigue atau social media fatigue, yakni rasa lelah dan bosan karena lebih sering mengakses dunia digital, berinteraksi melalui media sosial dibanding berkomunikasi secara langsung, kondisi yang membuat pengidapnya merasa ingin melepaskan diri dari pengaruh media sosial dan dunia maya.

Sebelum turun tangan untuk menangani masalah yang ada, hendaknya mahasiswa menyelesaikan masalahnya terlebih dahulu. Permasalahan mental mahasiswa sebab dunia perkuliahan yang didambakan tidak sesuai dengan kenyataan menyebabkan stress dan tekanan yang memicu mudah lelah dan kurang bersemangat. Dengan me-manage waktu antara bermedia sosial dan bersosialisasi dengan orang-orang. Atau bisa dengan mengakses buku-buku bacaan dari internet. Kini banyak perpustakaan digital yang menyediakan e-book yang dapat diunduh atau sekedar dibaca sepintas. Dapat juga dengan menciptakan forum diskusi skala kecil, misalkan di tengah keluarga, mendiskusikan sebuah film atau judul buku, bertetangga dan masih banyak kegiatan lain yang bisa melepaskan keterkungkungan mahasiswa saat menghadapi kuliah daring. Dengan tidak hanya mengurung diri di dalam kamar, atau dengan mengikuti kegiataan ibadah berjamaah, akan membantu me-refresh otak yang jenuh dan iwa yang lelah akan beban-beban yang menunggu untuk diselesaikan.

Dengan demikian, mahasiswa akan tetap eksis bahkan lebih eksis dari sebelum masa pandemi melanda. Karena peranan penting mahasiswa di tengah- tengah keterbatasan bersuara tetap menjadi andalan. Mahasiswa harus terus memperjuangkan hak-hak dan keadilan bagi masyarakat. Menertibkan yang kacau balau dan membangkitkan sektor-sektor yang hampir bahkan sudah runtuh. Bagaimanapun keadaan memukul mundur banyak faktor penting kehidupan, mahasiswa harus terus menunjukkan keberadaannya sebagai agent of change dan control social dengan melakukan pergerakan dan perubahan kecil, dapat dimulai

dari diri sendiri, teman, kerabat atau keluarga terlebih dahulu. Dengan pijakan kecil, mahasiswa dengan jiwa social yang kuat diyakini akan mampu bertumbuh untuk mengubah Indonesia menjadi bangsa yang besar dan negara maju. Jangan sia-siakan pengorbanan para senior mahasiswa zaman dahulu untuk memajukan demokrasi Indonesia dengan hanya menjadi penonton. Majulah untuk memajukan bangsa. Apa beda mahasiswa sebagai kaum intelektual dengan kaum non- intelektual jika hanya berdiam diri dan mengamati tanpa ada tindakan apapun. Ingatlah kehidupan kampus dengan terus mengasah. Jangan habiskan waktumu untuk berkeluh kesah,-Najwa Shihab.

LEAVE A RESPONSE