BIDIK

Kritis, Informatif & Partisipatif

ESAI

PERAN AGENT OF CHANGE MAHASISWA MILENIAL DI ERA PANDEMI

Oleh:
Izrail Ali
Mahasiswa KPI 2020

Seperti yang kita ketahui hari demi hari mental mahasiswa kian melemah. Hal ini dikarenakan kecanduan medsos, dimana mereka sibuk menjadi heters dan menunjukan eksistensinya melalui berbagai postingan agar untuk dilihat publik. Kegunaan medsos agar inofatif kemudian melahirkan produktif kian menurun, mungkin dikatakan ramai kegunaan positifnya tapi…. apabila kepepet, karena tugas online saat pandemi. Tentu sangat disayangkan bukan??

Hidup dikelilingi jaringan internet yang dibangun agar masyarakat tidak kolot, hanya berlaku diperkotaan saja, tetapi bagaimana dengan pendididkan pedalaman, sayangkan? Hanya diliburkan saja tanpa diberikan tugas pengetahuan. Mula pertama covid menyerbu negeri, serentak beredar berita dimana-mana, televisi yang tadinya sering menampilkan siaran karya produktivitas, kini menjelma jadi sesuatu yang menakutkan. Karena setiap hari hanya menyiarkan kabar pandemi yang begitu menyeramkan. Dengan pandemi ini, efeknya tidak ada lagi mahasiswa aktif, mahasiswa kritis, atau mahasiswa yang lembur di warung kopi bersama teman, untuk mengerjakan tugas perkuliahan.

Awal dikabarkan libur pertama covid-19 rasa senang penuh semangat, karena lebih banyak bersantai dirumah saja, rebahan hanya untuk game online ditemani secangkir kopi, hingga larut begadang sampai pagi. Edaran kampuspun keluar berangsur-angsur tadinya diliburkan hanya 3 minggu kini terus berlanjut sampai berbulan-bulan hingga berlanjut pergantian tahun. Tak heran jika sebagian mahasiswa lebih banyak bersantai untuk menghabiskan waktu yang kian merugikan mentalitas diri mahasiswa. Hal ini menjadi persoalan yang serius untuk dipecahkan objek permasalahannya.

Sebagai mahasiwa agen of change milenial, tentu pada zaman sekarang banyak sekali bentuk keahlian Mahasiswa yang dibutuhkan. Dengan demikian dapat meraih berbagai macam reward, meskipun pada kondisi pandemi yang terus berkelanjutan yang berimbas pada putusnya interaksi sosial masyarakat dalam hal ini adalah mahasiswa. Apalagi disaat pemerintah menerapkan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) Karena tingginya angka penderita Covid -19 di indonesia. Sehingga tak dapat dipungkiri pada awal tahun 2020 lalu membawa dampak buruk terhadap perekonomian banyak orang. Banyak karyawan yang dirumahkan lantaran Perusahaan tersebut tutup karena tidak mampu bertahan di tengah pandemi. Sayangkan, banyak juga yang harus menutup usahanya karena kurang diminati oleh masyarakat. Oleh karena itu dapat dilihat, bentuk peran  mahasiswa yang dibutuhkan. Dengan  karya produktifitas mahasiswa yang kurang dipahami masyarakat seperti Desain Grafis, pemanfaatan  Desain Web untuk bisnis dan banyak lagi  lainya.

George C. Homans dalam bukunya “Elementary Forms of Social Behavior, 1979 mengeluarkan beberapa proposisi:

  • Proposisi sukses yaitu apabila individu mendapat imbalan (reward) yang sesuai dengan apa yang dilakukan (cost) maka, pada kesempatan lainya individu akan melakukan perilaku yang sama karena ia tahu, ia tidak akan merugi.
  • Propoisi yang kedua adalah proposisi nilai, apabila nilai yang didapatkan semakin tinggi, maka individu akan berusaha akan melakukanya karena imbalanya juga semakin besar.
  • Proposisi yang ketiga adalah proposisi deprivasi satiasi, yaitu imbalan yang diterima melebihi ekspetasi awal.

Dari tiga proposisi yang  di kemukakan oleh George diatas dapat di simpulkan bahwa dengan memanfaatkan situasi di era pandemi, mahasiswa dapat menciptakan keunggulan dan menghasilkan karya-karya yang produktif yang diminati orang banyak. Dengan demikian kegitan ini dapat menguntungkan bagi diri mahasiswa itu sendiri dan juga orang banyak (masyarakat). Dengan memanfaatkan gadget (handphone) yang lebih memudahkan mahasiswa zaman sekarang untuk melakukan berbagai macam aktifitas dalam memanfaatkan media sebagai sumber penghasilan, asalkan ada kuota dan jaringan tidak lemot dan juga didorong oleh kemauan yang tinggi.

Coba kita lihat kembali nostalgia semangatnya mahasiswa di tahun 90-an, dan di bandingkan dengan mahasiswa tahun 2000-an, tentu sangat berbeda. Seperti yang  diketahui keuletan dan kegigihan mahasiswa  90-an juga tidak kalah, meskipun dulunya sangat kesulitan komputer tapi dengan begitu kedisiplinan mereka sangat luar biasa. Mahasiswa 90-an kebawa itu sangat jarang memiliki komputer. Cuman jarinya saja yang sudah kebal dan tentunya sangat ahli untuk cetak cetok mesin ketik dengan kecepatan yang tidak kalah dengan generasi yang menggunakan laptop di zaman sekarang. Mereka juga dilatih 10 jari untuk mengetik baik menggunakan mesin ketik atau komputer. Dengan begitu mahasiswa tahun 90-an juga memanfaatkan pekerjaan jasa mengetik agar dapat menghasilkan uang. Tetapi kalau membicarakan internet, tentu internet tahun 90an sangat lemot  karena internet di tahun 90-an hanya 35 KB saja tidak mungkin bisa mendownload film kartun, yah… kalau nekat bisa sampai 5 hari atau bisa juga seminggu, itupun kalau koneksinya tidak putus. Dan juga belum lagi masa kuliah 7 tahun. Sekarang sudah sangat enak jika dibandingkan dengan mahasiswa 90-an kebawah. Mahasiswa sekarang dapat menyelesaikan kuliah dalam waktu 4 tahun. Kalau mahasiswa 90-an kebawah minimal 7 tahun untuk bisa menyelesaikan kuliah. Kalau ada yang bisa empat tahun itu sudah termasuk katagori jenius.

Dari sekelumit nostalgia Mahasiswa tahun 90-an di atas, kita dapat melihat bahwa, meskipun sangat ketinggal teknologi yang sangat mumpuni bagi mahasiswa 90-an. Itu tidak dijadikan masalah yang dapat melemahkan mentalitas mahasiswa 90-an dengan demikian apakah kita sebagai mahasiswa yang serba tanpa kekurangan dalam mengembangkan pengetahuan sekarang  akan sangat bangga dan berani menertawakan mereka? Apakah kita sanggup ketika zaman di balik dan saling tukar peran, apakah kita sanggup? Jangan melihat dari ketinggalan updatenya tetapi lihatlah dari gesit dan cekatan mereka dalam menyelesaikan begitu banyak persoalan. Jangan merasa bangga ketika zaman berpihak kepada kita tetapi banggalah ketika kita mahasiswa milenial bisa melakukan hal yang bermanfat kepada orang banyak ( Masyarakat).

Sebagai kaum yang tercerahkan seorang mahasiswa harus berfikir secara visioner demi kemajuan sesuai cita cita bangsa dan negara. Sebagai mahasiswa social control, tugasnya mengontrol realitas sosial dalam kehidupan masyarakat. Selain tanggung jawab individu, mahasiswa juga memiliki tanggung jawab sosial, yaitu bahwa keberadaan dan segala perbuatanya tidak hanya bermanfaat untuk dirinya sendiri tetapi juga harus membawa manfaat bagi lingkungan sekitarnya. Selanjutnya peran intelektual mahasiswa sebagai orang yang di sebut-sebut sebagai insan intelek harusnya dapat mewujudkan status tersebut dalam rana kehidupan nyata. Coba kita lihat peran mahasiswa dalam sejarah penjajahan Indonesia sangat besar, terbukti dengan tercatatnya beberapa pergerakan mahasiswa yang telah membawa perubahan yang sangat signifikan tentu sangat luar biasa apalagi mahasiswa sebagai agent of change, sudah sewajarnya selalu berupaya untuk beraktualisasi diri demi masa depan yang cerah. Dilihat dari pembahasan awal harusnya mahasiswa milenial sebagai  agent of change sangat di perlukan keseriusan dalam memanfaatkan situasi penting untuk menghadapi berbagai macam persoalan di era moderen saat ini. Disamping menghadapi pelajaran kampus di rumah saja dengan pertemuan melalui via online, sangat banyak juga waktu yang dapat digunakan untuk para mahasiswa milenial untuk besosialisasi dengan lingkungan sekitar ( Massyarakat).

Prof. Dr. Warsono mengatakan bahwa peran mahasiswa dari tahun ke tahun mengalami perubahan. “dulunya pada tahun 1908 mahasiswa memiliki kedudukan sebagai kaum intelektual hingga pada puncaknya pada saat proklamasi kemerdekaan tahun 1945 pada masa orde baru 1966 dimana mahasiswa mengalami perubahan tanpa konsep karena tidak ada upaya untuk melawan pemimpin yang otoriter,’’ ujar PR lll itu. Menurutnya era reformasi saat ini mahasiswa masih belum bisa berperan seperti tahun 1945 sampai masa orde lama.

Mahasiswa saat ini cenderung hanya mengikuti euporia perkembangan zaman. Hal itu dapat dilihat dari mahasiswa yang gampang terpengaruh oleh perubahan zaman. Prof. Dr. Warsono menambahkan bahwa mahasiswa harus menjadi kaum intelektual yang akan membawa perubahan. Tentu di era sekarang sebagai mahasiswa pembawa perubahan, peluang yang ingin dicapai tentu sangat besar tentunya di dorong dengan dengan kemauan yang sangat kuat agar dapat berkompetensi dalam segala bidang yang di bidik.

Dapat dilihat dari berbagai macam titik permasalahan mahasiswa milenial di era pandemi yang harus di benahi guna mencapai tujuan. Oleh karena itu penulis menyarankan, di era pandemi yang terus berkelanjutan perlu adanya kesadaran intelektual dalam diri mahasiswa, menciptakan inovasi baru dalam masyarakat sekitar agar masyarakat lebih adaptif dan inofatif dalam mengembangkan kreatifitas mahasiswa.

Rektorat Universitas Kristem Maranatha, Prof. Ir. Sri Widiyantoro, M., Sc., Ph.D.,IPU, mengemukakan bahwa ditengah era disruptif dan dalam situasi pandemi saat ini, dunia pendidikan mau tidak mau harus mampu beradaptasi. Beliau menyadari menjalani kehidupan jarak jauh tidak mudah dan menjadi tantangan besar yang harus dipahami bersama. Ia mengajak seluruh mahasiswa civitas academica untuk tidak berkecil hati. “karena kita akan berhasil melewati situasi ini, tentu dengan penyertaan tuhan dan menjalani sikap adaptasi yang telah ditetapkan,’’ ungkap Prof. Ir. Sri Widiyantoro.

Oleh karena itu, sebagai mahasiswa agen perubahan jika dari sekarang saja covid-19 hingga saat ini masih belum usai. Perguruan tinggi pun dituntut agar bisa beradaptasi menghadapi masa pandemi ini. Berbagai upaya harus bisa dilakukan perguruan tinggi agar bisa beradaptasi sekaligus memberi kontribusi nyata bagi masyarakat dan mahasiswa dalam menghadapi pandemi. Dalam penyelenggaraan webinar Universitas Muhamadiyah malang dengan tema “inovasi tehnologi dan pengembangan tehnologi informasi dalam pemberdayaan masyarakat dalam pemberdayaan masyarakat pasca covid-19’’ Diselenggarakan sebagai bentuk kontribusi perguruan tinggi untuk menjawab tantangan mengenai permasalahan dalam pemberdayaan peran mahasiswa untuk masyaeakat. Forum diskusi bagi akademisi untuk menjawab tantangan problematika di masyarakat ditengah pandemi covid-19 untuk beradaptasi secara akselerasi di era disrupsi sehingga dapat membangun masyarakat yang berkeradaban.

Sebuah disposisi untuk merespon positif atau negatif pada objek, orang, lembaga atau peristiwa. Berkaitan dengan sikap tanggung jawab, mahasiswa sebagai pelajar dewasa dapat menjalani perubahan dalam tehnologi informasi secara cepat, apalagi mahasiswa sekarang adalah kelompok milenial yang tidak terlepas dari gadget ( handphone) dan juga dibarengi dengan tanggung jawab mahasiswa sebagai warga negara yang baik, meliputi tanggung jawab terhadap diri sendiri, keluarga, lingkungan sekitar serta kepada tuhan yang maha esa. Terkait dengan sikap tanggung jawab mahasiswa terhadap lingkungan dan masyarakat lebih di tekankan kepedulian mahasiswa kepada lingkungan dan masyarakat. Perubahan tehnologi sosial, dan lingkungan sedang terjadi secara global. Bukan hanya permasalahan IT saja yang bisa di tanggulangi mahasiswa dalam lingkungan masyarakat tetapi habisnya bahan bakar, krisis air, perubahan iklim, permukaan laut naik,meningkatnya kebutuhan energi dan air dan berkurangnya sumber daya alam. Oleh karena itu diperlukan peran mahasiswa dalam masyarakat, dengan mengubah mindset agar belajar di rumah dan menjadi sebuah pengalaman yang menyenangkan. Sebagai contoh tanggung jawab terhadap masyarakat. Dengan melaksanakan kegiatan belajar yang menyenangkan yaitu dengan mengajak atau mempelopori pemuda atau remaja dengan bentuk pembangunan sesusai dengan daerah masing masing. tentunya dari sini kita  dapat melihat begitu pentingnya peran mahasiswa dalam kehidupan masyarakat sebagai mahasiswa agen perubahan milenial.

Oleh karena itu jangan mau dikatakan mahasiswa yang biasa biasa saja tetapi jadilah mahasiswa yang luar biasa yang berperan penting dalam hidup bersosialisasi dalam kehidupan bermasyarakat, Tidak ada yang yang melarang kita untuk begadang atau melakukan hal hal yang tidak berguna, tetapi apakah pantas jika model mahasiswa seperti ini. Tetapi yang dikatakan mahasiswa yang memiliki peran dalam hidup bermasyarakat adalah ketika dia berperan aktif dalam membangun kreaktifitas yang sangat penting dan berguna dalam bermasyarakat.

LEAVE A RESPONSE